11 Kabupaten/Kota di Sumut Positif Tertular Virus Babi, 4.071 Ekor Mati
30 Oktober 2019 - 09:22:48 WIB | Dibaca: 2916x
Medan (SIOGE) - Sebanyak 11 kabupaten/kota di Sumut positif tertular virus babi. Kesebelas kabupaten/kota itu antara lain, Pematangsiantar, Simalungun, Taput, Tobasa, Dairi, Karo, Humbahas dan Medan. Sedangkan tiga daerah lagi menunggu laporan tim dari lapangan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (KPP) Sumut Azhar Harahap saat dihubungi melalui teleponnya, Selasa (29/10).
Dia mengatakan, data pasti penyebaran virus babi itu akan rampung, Rabu (30/10) hari ini dan pihaknya melakukan rapat dengan pihak-pihak terkait. "Untuk mengantisipasi penyebaran virus ini kita bersama tim sudah turun ke lapangan. Kita bertemu para bupati dan perwakilan bupati dan wali kota di lapangan. Kita telah mengintruksikan agar perpindahan ternak babi antar desa jangan dilakukan agar penyebarannya tidak cepat menular ke daerah lain," ujarnya.
Sementara terkait beredarnya foto seorang wanita di lini massa yang disebut-sebut terkena virus babi, dengan tubuh penuh bercak keunguan, menurut Azhar Harahap, itu adalah hoax (tidak benar). "Itu penyakit lain. Jadi sampai saat ini belum ada kita temukan di lapangan, khususnya di Sumut, manusia terjangkit virus babi. Itu penyakit lain," katanya tanpa mau menjelaskan jenis penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Mujahid secara terpisah juga mengatakan, bahwa hal itu hoax. Sampai saat ini pihaknya belum ada menerima laporan ada manusia terjangkit virus babi namun kita akan memantaunya," kata Alwi Mujahid.
Sementara itu, anggota DPRD Sumut Franc Bernhard Tumanggor mendesak Menkes (Menteri Kesehatan) RI untuk segera turun ke Sumut untuk meneliti bahaya virus hog cholera (kolera babi) bagi kesehatan manusia.
"Menkes RI harus segera turun ke daerah ini, guna meneliti dan mengumumkan hasilnya ke publik, apakah virus kolera babi yang menyerang ternak babi di Dairi, Humbang Hasundutan dan Taput ini berbahaya atau tidak bagi kesehatan masyarakat," ujarnya kepada wartawan, Selasa (29/10) di DPRD Sumut.
Penegasan itu diungkapkan Franc, mengingat saat ini masyarakat di 3 kabupaten itu merasa resah, akibat beredarnya foto-foto di Medsos yang disebut-sebut korban terkena virus kolera babi. Gejala yang timbul dalam foto itu, seluruh badan korban berbintik-bintik merah seperti terkena cacar air.
"Apakah benar foto yang beredar itu terkena virus kolera babi atau hanya hoax untuk menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Hal ini perlu dijelaskan instansi terkait. Jika foto-foto itu hoax, kita berharap agar aparat penegak hukum segera mengusutnya," tandas politisi Partai Golkar Dairi tersebut.
Diakuinya, sejak mewabahnya virus kolera babi yang menyebabkan ribuan ternak babi mati di sejumlah kabupaten/ kota di Sumut, secara drastis masyarakat enggan mengkonsumsi binatang berkaki empat tersebut.
Jumlah Ternak Yang Mati
Mulkan juga menegaskan, terkait kematian ternak babi itu, maka yang berhak memberi informasi data yakni petugas lapangan Balai Veteriner Medan dan Isikhnas.
Sampai tanggal 29 Oktober 2019, data dari Petugas Lapangan sebanyak 4.071 ekor babi yang mati dengan rincian di Dairi sebanyak 1.513 ekor, Deli Serdang 1.328 ekor, Medan 2 ekor, Karo 192 ekor, Tobasa 400 ekor, Serdang Bedagai 500 ekor, Tapanuli Selatan 58 ekor dan Samosir 78 ekor, ujarnya dikutip dari SIB.
Dari laporan Balai Veteriner babi mati 3.523 ekor yakni Kabupaten Dairi 1.545 ekor, Humbahas 301 ekor, Deli Serdang 1.328 ekor, Medan 33 ekor, Karo 85 ekor, Tobasa 125 ekor, Sergai 10 ekor dan Taput 96 ekor.
Sedangkan berdasarkan laporan dari ISIKHNAS, jumlah ternak babi yang mati sebanyak 3.101 ekor terdiri yakni Dairi 1.599 ekor, Humbahas 455 ekor, Deli Serdang 700 ekor, Karo 132 ekor, Tobasa 30 ekor, Sergai 10 ekor, Taput 25 ekor dan Tapteng 150 ekor. (t/s1)












