Selasa, 21 Juni 2016 - 14:55:54 WIB
SUDAH BISA CANGKOK KORNEA, INI KENDALA YANG DIHADAPI RSUP DR SARDJITO
Kategori: Lifestyle - Dibaca: 2118 kali

 

 

 

Yogyakarta(SIOGE)
Kebutaan akibat kerusakan kornea menyumbang 7 persen dari seluruh penyebab kebutaan Indonesia. Seperti halnya negara agraris lainnya, pemicunya adalah infeksi bakteri maupun jamur.

Dari data yang dimiliki rumah sakit mata rujukan di Indonesia, infeksi kornea akibat jamur seringkali dipicu oleh jamur seperti Aspergilus, Fusarium, Candida, sedangkan bakteri yang menyebabkan kerusakan kornea di antaranya Pseudomonas, Stafilokokus, Streptokokus, Niseria dan terkadang Protozoa, khususnya Amoeba.

"Yang lebih banyak dirawat di Sardjito (RSUP Dr Sardjito, red) adalah infeksi karena jamur. Rata-rata dialami petani kita yang terkena daun, pasir," ungkap Prof Dr dr Suhardjo, SU, SpM(K) kepada wartawan baru-baru ini.

Sayangnya, riset menyebutkan, 67 persen pasien infeksi kornea datang ke rumah sakit mata rujukan dalam keadaan sudah terlambat atau mengalami kebutaan. Dan hampir 80 persen membutuhkan pencangkokan kornea (keratoplasti) untuk mengembalikan penglihatannya.

Keratoplasti dilakukan dengan menghilangkan bagian yang buram dari kornea pasien dan menggantinya dengan bagian kornea yang jernih dari donor, dengan cara dijahitkan. "Infeksi kornea itu ibarat kaca depan mobil yang buram. Jadi kalau pengen bisa melihat ya kacanya itu diganti," tegas Suhardjo.

Untuk keratoplasti, Suhardjo, ada dua jenis operasi yang bisa dilakukan, yakni Keratoplasti Tembus dan Keratoplasti Lamelar. Di antara keduanya, keratoplasti lamelar memiliki tingkat kerumitan yang tinggi dan membutuhkan donor dengan mutu tinggi, tetapi risiko rejeksi atau penolakannya sangat kecil.

"Risiko penolakannya kecil sekali, hanya 10-20 persen, sebab kornea juga bersifat avaskuler jadi tak perlu mencocokkan pembuluh darah donor dengan pasien," terangnya.

Operasinya pun hanya membutuhkan waktu satu hingga satu-seperempat jam, dengan perawatan paska operasi berupa pemberian obat antibiotik dan antiperadangan saja, seperti halnya operasi pada katarak.

Kendati demikian operasi harus dilangsungkan sedikitnya 1 x 24 jam sebelum kornea mengalami kerusakan. Sedangkan bahan pengawet korneanya sendiri tidak dimiliki setiap bank mata di Indonesia.

Ditambahkan Suhardjo, RSUP Dr Sardjito sudah mampu melaksanakan cangkok kornea bagi pasien yang membutuhkan. Hanya saja, diakuinya donor selalu menjadi masalah terbesar mereka.

"Selama ini kita dibantu donor dari Nepal Eye Bank dan negara lain seperti Filipina tetapi itu pun tersendat-sendat," urainya.

Menurutnya, donor lokal hanya disediakan oleh bank mata pusat, itu pun rebutan. Bahkan dari catatannya, donor lokal baru didapat satu kali dari bank mata pusat, yaitu di tahun 2013 saja. Setelah itu tidak ada sama sekali.

"Saya kira di kita masih terbentur pada masalah budaya. Yang bersangkutan sudah mau jadi donor tapi begitu meninggal keluarganya kadang kurang berkenan. Belum lagi kalau ternyata dia punya penyakit," tandas Suhardjo.

Padahal menjadi donor kornea tidaklah sulit. Suhardjo mengatakan tidak ada batasan apapun bagi mereka yang ingin mendonorkan mata ataupun korneanya. "Makin muda usia pendonor makin bagus, yang penting kornea pendonor itu jernih. Kita juga punya alat pengukur kualitas korneanya," pungkasnya.

Lantas bagaimana dengan biayanya? Bagi pasien yang menjadi anggota BPJS, Suhardjo mengatakan keratoplasti tidak dipungut biaya sama sekali. Sedangkan bagi yang tidak ter-cover, biaya untuk sekali operasi mencapai Rp 12 juta.(Dtk)

 

 

 

 




Isi Komentar :
Nama :
Komentar
 
 (Huruf Apa Itu ?)