Jaringan Solidaritas Tanah Karo Gelar Pertemuan Bahas Masa Depan Tanah Karo
06 Oktober 2020 - 11:56:24 WIB | Dibaca: 3809x
Kabanjahe (SIOGE) - Organisasi dan komunitas di tanah karo yang tergabung di Jaringan Solidaritas untuk kemajuan tanah Karo gelar pertemuan bahas masa depan tanah karo di Zentrum GBKP Kabanjahe, Selasa (29/9/2020).
Adapun organisasi yang tergabung di dalamnya dan hadir dalam pertemuan itu berjumlah sebanyak 75 orang dan tetap mematuhi protocol kesehatan. Organisasi yang ikut dalam pertemuan tersebut diantaranya, Moderamen GBKP, Kategorial Moria, Mamre, Permata, KAKR, Perwakilan Gereja Katolik Kabanjahe, Perwakilan Gereja HKBP Kabanjahe, Perwakilan Gereja GKPS Kabanjahe, Gereja GKPI Kabanjahe, Gereja HKI Kabanjahe, Gereja GMI Kabanjahe, Gereja GKPPD Kabanjahe, Gereja BNKP Kabanjahe, BKAG (PGPI, PGLI, PHT, Pentakosta) Kabanjahe, Komunitas Muslim (NU, Aswaliyah, Muhammadiyah, GP Ansor) Tanah Karo, GERAH, Masyarakat adat LAKONTA, YAK, PERKELENG, YAPIDI, Serikat Tani Tanah Karo, Jaringan Kerja Perempuan Karo (perwakilan CU YAPIDI), Komunitas Pemuda Milenial, Seniman Karo/Ornamen Karo, Pujakesuma, Komunitas Aron, Komunitas Tionghoa, Akademisi/Universitas Quality dan Jusuf Sukatendel, Boy Brahmana, drh.Bobby, dll.
Artinus Hulu selaku Tim Perumus Jaringan Solidaritas Kemajuan Tanah Karo yang juga Staf Yayasan Perhimpunan Pelayanan Pijer Podi (YAPIDI) menyampaikan, berawal dari kegelisahan, pergumulan dan diskusi para Perempuan Karo melihat keterpurukan dan perkembangan Taneh Karo secara luas maka muncullah ide untuk memulai diskusi serius serta menginisiasi gerakan solidaritas bagi semua kalangan untuk kemajuan Karo.
Impiannya kita semua dapat bertumbuh serta sejahtera dalam lingkungan yang menjunjung tinggi budaya dan gotong royong.
Berdasarkan hasil analisa sosial di lapangan ada beberapa permasalahan yang dihadapi masyarakat Karo saat ini seperti, Masalah Pertanian yang sangat kompleks, Ekonomi kerakyatan/peluang usaha masyarakat (HAK EKOSOB), Pengembangan agrowisata berbasis komunitas masyarakat, Kemiskinan, Stress Sosial, Penyakit sosial seperti narkoba, judi, Krisis Kepemimpinan, Kekerasan anak dan kekerasan berbasis gender, Ketidakadilan Gender, Kualitas pendidikan, Keadilan bagi penyintas Gunung api Sinabung, Politik transaksional dan korupsi. Dalam diskusi dibahas terkait kemungkinan menuju kemajuan Karo untuk lebih baik.
Dalam waktu dekat tepatnya Desember 2020 akan dilaksanakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Karo. Memanfaatkan momentum Pilkada dirasakan sebagai suatu yang sangat baik terutama dalam menentukan kepemimpinan Karo yang visioner, keberpihakan terhadap rakyat dan memiliki kecintaan besar terhadap Kabupaten Karo.
Dalam hal ini komunitas ini akan menghantarkan, mengkawal, berpartisipasi dan mengkritisi Paslon terpilih nantinya, agar menjaga untuk tetap memihak atau memikirkan masyarakat Karo. "Komunitas independen dari partai mana pun dan sejak mulai berdiri akan tetap melakukan pendidikan kritis kepada komunitasnya maupun masyarakat," sebutnya.
Dalam diskusi muncul batasan pergerakan karena aturan kelembagaan maka untuk itu dalam rapat mengusulkan membentuk komunitas atau jaringan ini dalam kaitannya untuk mengadvokasi Hak Sipol dan Ekosob masyarakat. Selain itu anggota komunitas pun mengalami perkembangan dari hanya komunitas perempuan menjadi komunitas heterogen yang dipersatukan oleh kesamaan pandangan, pergumulan melihat permasalahan di Karo, dan kesadaran menuju masyarakat Karo yang adil sejahtera.
"Kita sudah resah melihat kondisi pembangunan di tanah Karo sekarang ini, pembangunan infrastruktur yang lambat, pengembangan pertanian yang tidak di perhatikan, serta kualitas pelayanan birokrasi yang masih jauh dari harapan masyarakat Karo, pembangunan SDM, optimalisasi periwisata, lapangan kerja dan dukungan pemerintah terhadap pengembangan ekonomi kreatif yang masih minim, maka masyarakat harus bersatu," ujar salah satu peserta konsolidasi.
Elfanta Suganda Purba yang juga tim perumus Jaringan Solidaritas untuk Kemajuan Tanah Karo juga menambahkan, kedepannya harapan kita jaringan ini akan menentukan pilihannya cenderung melihat potensi dan keberpihakan paslon terhadap masyarakat Karo, kelompok rentan dan kaum milenial sesuai analisis sosial, GESI (Gender sosial inklusi) track record yang baik, karakter, integritas calon, visi misi dan hasil debat yang akan kita selenggarakan nantinya.(rel/s)









.jpeg)











