Bukan Generasi Strawberry
19 Januari 2025 - 17:45:42 WIB | Dibaca: 2775x
Aku tidak tahu bagaimana mendidik adikkku yang sudah sekian tahun tapi masih saja bergantung kepada keluarga. Sebenarnya terkadang aku tidak tega membiarkan dia sendiri berjuang. Tetapi di sisi lain aku tidak ingin dia tumbuh manja dan bergantung terus pada orang lain. Aku ingin dia hidup mandiri.
“ bang…aku mau beli…”
“ beli apa lagi, sudah saatnya kamu mandiri dan jangan bergantung pada orang lain “ kataku.
Dia memang sudah terbiasa di manja oleh ayah dari dulu. Ayah selalu bilang dia anak yang paling kecil jadi wajar dia bergantung pada kakak-kakaknya. Tapi sungguh aku tidak setuju dengan pernyataan ini. Aku rasa tidak mungkin selamanya dia bisa bergantung pada orang lain. Aku tetap memegang prinsip kalau sudah dewasa harus mandiri.
Sore itu aku begitu berdebat dengan adikku. Aku tetap bersikeras dengan prinsipku kalau sudah dewasa harus mandiri apalagi sebagai anak laki-laki. Kita tidak bisa terus menerus bergantung pada orang lain kataku. Mungkin saat itu adikku sakit hati. Semenjak perdebatan itu dia tidak pernah lagi menghubungiku. Kadang aku rindu juga dengan celotehannya tapi ku tahan semua itu demi perubahan dirinya.
“ selamat tahun baru ya bang maafin kalau aku ada buat salah” ada satu pesan singkat dari adikku di awal tahun ini. Untuk pertama kalinya aku membaca pesannya tanpa ujung-ujungnya meminta uang. Aku sedikit menghela nafas lega ternyata dia sudah mulai mengerti dengan pengertian yang aku berikan. Aku melakukan itu bukan karena aku benci padanya. Jauh di dalam lubuk hatiku aku ingin dia jadi pribadi yang tangguh yang tidak bergantung pada orang lain.
Aku berfikir orang tuaku yang sudah meninggal akan damai di sana jika mereka tahu anak-anak mereka sudah bisa hidup mandiri. Itu pemikiran dari aku. Dan aku merasa sudah menjadi tanggung jawabku mendidik adikku untuk tidak jadi generasi strawberry yang rapuh. (Dian Lestari Sembiring)





















.jpg)
