Penyemprotan Disinfektan Langsung ke Tubuh Bisa Membahayakan Kesehatan
03 April 2020 - 00:14:30 WIB | Dibaca: 4104x
Australia (SIOGE) - Tanpa menghiraukan peringatan dari ahli kesehatan, Selasa kemarin, Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, melakukan penyemprotan disinfektan sebagai upaya menghadapi pandemi virus corona. Penyemprotan disinfektan dilakukan secara massal oleh petugas yang mengenakan alat pelindung seperti karakter dalam film 'Ghostbusters'. Bukan hanya di Indonesia, praktik seperti ini juga dilakukan di negara lain, seperti di salah satu pasar terbesar di Turki, jembatan di Meksiko, bahkan secara langsung ke tubuh para pekerja imigran di India.
Sejumlah perkantoran dan tempat-tempat di Indonesia pun diketahui telah melakukan penyemprotan disinfektan kepada mereka yang akan masuk ke dalam gedungnya. Tapi menyemprot langsung disinfektan langsung ke tubuh mendapat kritikan dari sejumlah ahli penyakit, karena alasan kesehatan dan dianggap memboroskan waktu dan sumber daya. Menurut mereka, secara sains membuktikan cairan yang mengandung benzalkonium klorida dapat menyebabkan iritasi kulit, bila dipakai berlebihan atau dalam konsentrasi tinggi.
Saat ini mencuci tangan dan membersihkan permukaan benda yang sering disentuh, seperti tombol lift, telah dianjurkan sebagai upaya perlindungan yang lebih efektif dibandingkan disinfektan. Hal ini diungkapkan oleh Paul Tambyah dari Perhimpunan Mikrobiologi Klinis se-Asia Pasifik. "Penyemprotan mungkin memang murah dan lebih bisa dilihat banyak orang. Tapi saya lebih cara yang lebih efektif adalah dengan lebih memperhatikan kebersihan pribadi dan lingkungan sekitar."
Sejumlah foto dan video yang menunjukkan praktik penyemprotan cairan disinfektan ke udara dari truk atau dari alat penyemprot ke tanah telah menggusarkan banyak pakar kesehatan. "Menyemprot disinfektan ke jalanan pastinya tidak akan berdampak besar," kata Christopher Lee, mantan Wakil Direktur Kementerian Kesehatan Malaysia, yang juga dokter spesialis penyakit menular. "(Tindakan ini) adalah pemborosan sumber daya dan waktu." (ABCI)






















